Menindaklanjuti tulisan saya sebelumnya yang berkaitan dengan ilmu, maka untuk kesekian kalinya tulisan ini mengutif beberapa sabda Rasulullah SAW berkaitan dengan ilmu dan keutamaan bagi pemiliknya atau orang yang gemar menuntut ilmu. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa menuntut ilmu adalah hal yang wajib dalam Islam, tak terbatas oleh tempat yang jauh tak terbatas pula oleh usia yang semakin senja. Menuntut ilmu tidak mesti di bangku sekolah atau kampus perkuliahan. Namun dari berbagai sumber dan media dapat kita jadikan sebagai sarana untuk memperoleh ilmu, namun demikinan hendaknya kita mempunyai panutan atau guru untuk berkonsultasi ketika mendapati suatu keraguan.
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurirah ra, nabi SAW bersabda:
“Barangsiapa berjalan untuk keperluan ilmu, maka Allah SWT membimbingnya ke jalan surga. Dan sesungguhnya orang ‘alim itu dimintakan ampunan oleh segenap makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai kepada seluruh ikan–ikan yang ada di lautan., dan sesungguhnya para ulma itu adalah pewaris para nabi”.
Dalam hadis lain nabi bersabda:
“Barangsiapa duduk di sisi seorang yang ‘alim dua saat saja atau makan makan bersamanya dua suapan atau mendengarkan perkataannya du kata atau berjalan bersamanya du langkah, maka Allah SWT memberikan kepadanya dua surga, yang tiap surga (luasnya) dua kali dunia”.
Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah SAW bersabda:
“Para ‘ulama itu mempunyai kelebihan tujuh ratus derajat di atas derajat orang-orang baeriman, yang antara tiap-tiap dua derajat sejauh perjalanan lima ratus tahun”.
Diterangkan bahwa ilmu itu lebih utama dari pada amal, dilihat dari lima segi, yaitu:
1. ilmu tanpa amal tetap ada, sedangkan amal tanpa ilmu tidak akan terlaksana.
2. ilmu tanpa amal tetap bermanfaat, sedangkan amal tanpa ilmu tidak akan bermanfaat.
3. amal bersifat tetap/pasif, sedangkan ilmu bersifat aktif bersinar bagaikan lampu.
4. ilmu adalah perkataan para nabi
5. ilmu adalah sifat Allah SWT sedangkan amal adalah sifat para hamba, sifat Allah SWT lebih utama dari pada sifat hamba.
Orang bijak berkata: kata ilmu itu terdiri dari tiga huruf: ‘ain, laam, dan miim. Huruf ‘ain singkatan dari kata ‘illiyyiin (derajat yang tinggi), huruf laam singkatan dari kata lathiif (halus,pemurrah, tenang), dan huruf miim singkatan dari kata mulkun (kerajaan). Maka huruf ‘ain dari kata ilmu dapat menyampaikan pemiliknya kepada derajat yang tinggi. Huruf laam dari kata ilmu dapat menjadikan pemiliknya halus, pemurah, dan tenang dan huruf miim dari kata ilmu dapat memungkinkan pemiliknya menjadi raja bagi para rakyat”.
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa nabi SAW masuk ke pintu masjid dan beliau melihat ada setan di tepi pintu itu. Nabi bertanya kepada setan tersebut: “hai iblis, apa yang sedang engkau lakukan disini?”. Setan menjawa:”saya hendak masuk ke dalam masjid dan akan mengganggu sholatnya orang ini, tetapi saya takut kepada orang yang sedang tidur didekatnya.”. nabi bertanya kembali:’hai iblis, mengapa engkau tidak takut kepada orang yang sedang sholat yang sedang beribadah dan bermunajat kepada Allah tetapi engkau malah takut kepada orang yang sedang tidur sedang ia dalam keadaan lalai,” . setan menjawab:”orang yang sedang sholat itu bodoh dan mudah diganggu, tetapi yang sedang tidur itu adalah orang ‘alim, sehingga jika saya berhasil mengganggu orang yang sedang sholat itu dan menjadikan sholatnya batal, saya khawatir jika orang alim itu terbangun dan segera membetulkan sholat orang tersebut.”
Dan dalam riwayat lainnya diceritakan”
“Apabila telah datang hari qiamat maka didatangkanlah empat golongan manusia di sisi pintu surga tanpa melewati hisab dan siksa, mereka itu adalah:
1. orang ‘alim yang mengamalkan ilmunya
2. seorang haji yang sewaktu menunaikan ibadah haji tidak melakukan kerusakan (yang membatalkan haji)
3. orang mati syahid yang terbunuh dalam peperangan
4. orang dermawan yang mengusahakan harta halal dan membelanjakannya di jalan Allah tanpa riya.
Mereka saling berebut agar dapat memasuki surga lebih dahulu. Maka Allah swt mengutus Jibril agar supaya mengatur mereka.
Pertama Jibril bertanya kepada orang yang mati syahid. Dengan pertanyaan:”apa yang telah engkau perbuat di dunia sehingga engkau mau masuk surga yang paling pertama kali?. Dia menjawab:”saya telah terbunuh dalam peperangan karena mencari keridhoan dari Allah”. Jibril bertanya kembali:”dari siapa engkau mendengar tentang pahala orang yang mati syahid?”. Dia menjawab:”dari para ulama”. Kata Jibril:”jagalah kesopanan, jangan engkau mendahului gurumu yang telah mengajar engkau”. Kemudian Jibril mengangkat kepalanya kea rah orang yang berhaji dan seraya bertanya seperti pertanyaannya yang pertama, dan demikian juga kepada si dermawan juga dengan pertanyaan yang sama. Lalu orang ‘alim itu berkata:”Tuhanku, tidaklah aku bias menghasilkan ilmu kecuali dengan sebab sifat kasih dermawan dan kebaikan orang yang dermawan”. Maka Allah SWT berfirman:” telah benar kata orang ‘alim itu, hai Ridwan (malaikat penjaga pintu surga) bukalah pintu-pintu surga agar supaya orang yang dermawan itu masuk lebih dahulubaru kemudian yang lainnya menyusul”.
(Misykaatul Anwaari)
“ wafatnya orang ‘alim itu laksana hancurnya alam”
Selengkapnya...
Sabtu, 13 Juni 2009
Keutamaan Ilmu
Kamis, 21 Mei 2009
Balasan bagi Pendidik
Islam sebagai agama yang hanif ini telah menyambut orang-orang yang mau melaksanakan tugas mendidik tunas muda umat dengan sambutan yang baik dan mulia. Allah akan memberikan limpahan rahmat dan curahan nikmat dengan menjadikan pahala yang akan ia terima tak putus-putus bahkan sampai ia menjadi penghuni alam kubur sekalipun.
Nikmat semacam ini tak akandapat diperoleh kecuali oleh mereka yang telah diberi petunjuk oleh Allah SWT. tak ada yang dapat mereguk dari mata air nikmat ini kecuali mereka yang beruntung.
Mengapa demikian ? sebab mereka yang dikaruniai Allah dengan kehadiran anak-anak dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan Allah dalam mendidik mereka dengan baik dan benar maka ia akan menghasilkan keturunan yang shaleh, menjaga hak-hak Allah maupun hak-hak masyarakat. Jika demikian segala perbuatan baik yang ia lakukan hingga ia mencapai derajat yang tinggi dalam ketaqwaan, akan ditulis untuk kedua orang tua sama dengan pahala amal ibadahnya. Begitu pula sebaliknya (jika ia jahat maka akan dituliskan pula amalan jahat itu untuk kedua orang tuanya tadi).
Tak hanya itu sekalipun kedua orang tua telah tiada pahala akan terus ia dapatkan dari amal shaleh anak mereka yang diperuntukkan kepada mereka, berupa sedekah doa dan lainnya. Hal ini didasarkan kepada al-Qur’an dan sunnah. Firman Allah SWT dalam surat Yaa siin :12
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Anak adalah hasil jerih payah orang tuanya. Allah menjadikan orang tua sebagai sebab bagi kelahiran anak. Karena itu dituliskan untuk kedua orang tua apa yang telah dikerjaka anak-anak mereka berupa pahala amalnya. Inilah penafsiran para ulama tafsir (tafsir ibnu katsir:3/572)
Penafsiran ini dikuatkan oleh hadits shahih:
“barangsiapa yang mempelopori perbuaan baik maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang itu sendiri sedikitpun.”
Memberikan pendidikan, ilmu dan adab yang terbaik jelas merupakan kepeloporan yang baik, inilah yang akan bermanfaat baginya setelah ia meninggal nanti. Apabila anak-anaknya nanti menjadi orang-orang yang shaleh sudah tentu mereka tidak akan melupakan hak kedua orang tua mereka setelah berpulang ke rahmatullah. Mereka akan bersedekah dan berdoa untuk mereka juga memperhatikan hak Allah dalam hal berbuat baik pada kedua orang tua mereka.
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan :
“apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmunya yang dimanfaatkan orang dan doa anak yang shaleh untuknya.”
Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari nabi SAW:
“akan ada nanti seseorang yang ditinggikan derajatnya di syurga hingga ia bertanya keheranan, “atas dasar apa ini?”maka dikatakan padanya;”semua ini karena anakmu yang memohon ampun untukmu.”
Ibnu berkomentar, “ barangsiapa yang meremehkan pendidikan anak dan membiarkannya terombang ambing berarti ia telah melakukan kesalahan terbesar. Kebanyakan anak-anak rusak karena orang tua mereka yang tidak memperdulikan mereka, dengan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Ini sama artinya menyesatkan anak-anak pada waktu kecil, sehingga tak dapat memberi manfaat untuk diri mereka sendiri juga untuk kedua orang tua mereka nanti ketika mereka telah dewasa. Inilah yang menyebabkan seseorang berkata kepada ayahnya,
“ayah, engkau telah mendurhakaiku ketika aku masih kecil, maka sekarang aku mendurhakaimu ketika aku telah dewasa. Engkau telah menyia-nyiakanku pada masa kecilku, maka akupun menyia-nyiakanmu pada masa tuamu.”
Sumber: kulihat syurga di rumahku, Dr. Muhammad Abdurrahman Syamilah al-Ahdal,h.341
Selengkapnya...
Minggu, 17 Mei 2009
4 Golongan Manusia
Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dan dalam bentuk yang sebaikbaiknya. Sebagaimana firman-Nya dalam surat at Tiin ayat 5,
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
Namun terkadang manusia kurang bahkan tidak mensyukuri akan nikmat Allah tersebut.
Selanjutnya pada diri manusia tersebut diberi akal agar dapat berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh penciptanya, namun terkadang manusia mendustakannya. Kenapa demikian? Itu karena dalam diri manusia atau pada hati manusia selalu ada bisikan yang mengajak pada perbuatan baik dan adakalanya mengarah pada perbuatan maksiat. Maka jika manusia itu menuruti hawa nafsunya maka ia tergolong pada orang yamg merugi dan barangsiapa yang mensucikan hatinya maka itulah orang-orang yang beruntung.
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا .قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا .وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Karena keragaman tingkat pemahaman manusia itu Khalil bin Ahmad membagi manusia itu pada 4 tingkatan sesuai dengan kesadaran akan keilmuwan yang dimiliki oleh tiap manusia. Yaitu:
1. Orang yang tau dan ia tau bahwa dirinya mengetahui. Inilah orang-orang yang berilmu, maka ikutilah mereka. Golongan ini menyadari akan keilmuwan dirinya dan ia mengajarkan kepada manusia tentang ilmu yang dimilikinya. Ulama yang seperti inilah yang harus kita ikuti.
2. Orang yang tau, tetapi ia tidak tau bahwa dirinya mengetahui. Artinya adalah orang yang berilmu namun ia tidak mengetahui atau tidak menyadari akan keilmuwan yang ada pada diriya. Maka bangunkanlah ia agar ia sadar dan mau mengajarkan atau mengamalkan ilmunya tersebut.
3. orang yang tidak tau, tetapi ia tau bahwa dirinya tidak tau. Orang yang seperti ini adalah orang yang sadar bahwa dirinya tidak tau dan oleh karena itu ia mau belajar dan mau bertanya pada orang yang tau. Maka dari itu ajarilah mereka.
4. orang yang tidak tau, dan ia tidak tau kalau dirinya itu tidak tau. Inilah orang yang paling rendah tingkatannya. Karena ia tidak menyadari akan kebodohannya, makanya ia tidak mau bertanya, tidak mau belajar karena ia tidak sadar kalau dirinya itu tidak tau (bodoh). Waspadalah terhadap orang yang seperti ini.
Mudah-mudahan kita termasuk pada tingkatan atau golongan yang pertama, yaitu orang yang berilmu dan mengetahui keimuwan kita sehingga kita dengan yakin mengamalkan dan mengajarkan ilmu kita kepada orang lain, sebab jika ilmu tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah, tidak menghasilkan apa-apa dan tidak mempunyai manfaat. Bahkan rasulullah SAW bersabda: “manusia yang paling berat azabnya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu tapi tidak mengamalkannya karena Allah.” Dalam hadisnya yang lain Rasulullah bersabda:”barangsiapa yang bertambah ilmunya, namun tidak bertambah benar jalannya maka ia semakin jauh dari Allah SWT.”
Selengkapnya...
Kamis, 14 Mei 2009
mutiara "IMAM SYAFI'I"
Siapa yang tidak mengenal imam Syafi’i, beliau adalah ulam besar yang sangat dihormati dan disegani karena kewibawaan dan ilmunya, beliau juga merupakan salah satu imam mazhab yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan dan kemajuan Islam hingga saat ini. Berikut adalah kutipan dari kitab Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Al Ghazali yang mengisahkan tentang kebesaran ilmu Imam Syafi’I, diantaranya yaitu:
Imam Syafi’i biasa membagi waktu malamnya ke dalam tiga bagian: “sepertiga malam
untuk ilmu, sepertiga malam lainnya untuk ibadah dan sepertiganta lagi untuk tidur.’
Rabi’ mengatakan bahwa Imam Syafi’i biasa menghatamkan alQur’an setiap hari. Sementara al Husain al karabisi bercerita, “Tidak hanya sekali saya tinggal bersama imam Syafi’i. setiap malam beliau menghabiskan sepertiga malam untuk shalat. Saya tidka pernah melihatnya shalat dengan membaca lebih dari lima puluh ayat, jika lebih dari jumlah itu beliau menggenapkannya menjadi seratus ayat. Setiap kali beliau membaca ayat tentang rahmat, beliau selalu memohon kepada Allah SWT untuk dirinya sendiri dan segenap kaum muslim dan mukmin. Sedangkan ketika beliau membaca ayat-ayat tentang azab beliau selalu memohon perlindungan dan keselamatan dari siksa kubur untuk dirinya dan kaum muslimin.
Imam Syafi’i berkata: Saya tidak pernah merasakan kenyang sejak usia empat belas tahun. Sebab rasa kenyang menjadikan badan bertambah berat, dapat mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, selalu dikuasai rasa kantuk dan membuat malas untuk beribadah.
Beliau juga berkata: “Saya benar-benar tidak pernah bersumpah dengan atas Allah SWT dalam kebenaran maupun kebohongan.” Beliau juga berkata’ “jika engkau takut akan munculnya sifat ujub (sombong) dalam dirimu, maka lihatlah keikhlasan orang yang engkau mintai pertolongan dan yang memenuhi segala kenikmatan yang engkau harapkan.”
Dalam perkataannya yang lain beliaunberkata: “aku tidak pernah mendebat seorang pun, lalu dalam perdebatan itu aku merasa senang jika lawanku tersalah. Aku juga tidak pernah berbicara dengan seseorang kecuali aku selalu menginginkannya agar mendapat hidayah dan perlindungan dari Allah SWT. dan aku sama sekali tidak pernah berbicara dengan seseorang kecuali aku sendiri selalu menginginkan agar Allah menunjukan kebenaran baik melalui perkataanku atau melalui ungkapannya.”
Adapun tentang kezuhudan imam Syafi’i , beliau pernah berkata, “Barangsiapa yang berkata bahwa ia dapat menyatukan antara hasrat cinta dunia dan cinta kepada Penciptanya dalam hatinya, maka sungguh ia telah berbohong.” Suatu saat tongkat imam Syafi’i terjatuh, lalu seseorang mengambil dan menyerahkan kepadanya. Maka beliau menghadiahkannya kepada orang tersebut sebesar lima puluh dinar.”
Ahmad bin Hambal berkata: “ Selama empat puluh tahun menunaikan sholat, aku selalu mendoakan (keselamatan) bagi Imam Syafi’i.”
Selengkapnya...
Rabu, 13 Mei 2009
Keutamaan Ilmu
Pembahasan tentang keistimewaan ilmu, banyak ditemukan dalam al-Qur’an , diantaranya dalam firman Allah SWT, (Qs.Al-Mujadalah:11)
ا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“ niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Ibnu Abbas berkata: “derajat ulama lebih tinggitujuh ratus derajat diatas orang beriman, dimana jarak antara satu derajat ke derajat lainnya adalah tujuh ratus tahun."
Firman Allah SWT. (Qs. Azzumar:9)
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
Dan (Qs. Al Fathir:28)
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“ Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”
(Qs.Al Ankabut: 43)
وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ (٤٣)
“ Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”
Dalam hadits disebutkan “Hamba yang paling mulia adalah mukmin yang berilmu, yang jika dibutuhkan ia akan bermanfaat bagi orang lain. Dan jika tidak dibutuhkan ia selalu merasa cukup dengan apa yang diterimanya”.
Dalam hadiis yang beliau bersabda:”Iman itu(ibarat orang ) telanjang yang pakaiannya adalah ketaqwaan, perhiasannya adalah sifat malu dan buahnya adalah ilmu”.
Dalam hadis yang linnya beliau bersabda:” Manusia yang paling dekat derajatnya dengan derajat para nabi adalah orang yang berilmu dan orang yang berjihad. Adapun orang yang berilmu karena ia selalu menuntun manusia kepada ajaran para rasul. Sementara orang yang berjihad karena mereka berjihad dengan pedang mereka sejalan dengan jihad yang diajarkan para rasul”.
Sabdanya yang lain adalah :” Orang berilmu adalah kepercayaan (wakil) Allah SWT. Di muka bumi”.
“ Golongan yang memperoleh syafaat pada hari kiamat adalah para nabi, orang-orang berilmu, dan para syuhada”.
Fath al-Moshuli bertanya, “bukankah orang sakit yang sudah tidak bisa makan, minum dan makan obat akan menemui ajalnya? Lalu dijawab:”ya”, lalu beliau berkata,”demikian pula dengan hati, jika sudah tidak bisa menerima kata-kata hikmah maupun ilmu selama tiga hari, maka ia akan mati”. Apa yang dikatakan Fath al-moshuli memang benar karena menu makanan hati adalah ilmu dan siraman kata-kata hikmah. Namun terkadang hati sudah tidak dapat lagi menerimanya karena sudah disibukan urusan duniawi yang menghilangkan sensitifitasnya. Lalu ketika kematian mendekatinya pada saat ia masih disibukkan dengan urusan duniawi, maka hatinya akan merasakan sakit yang tidak terkirakan sakitnya dan terus menerus tanpa akhir. Inilah makna sabda nabi,”Manusia itu tertidur(lalai), laluu saat mati barulah ia terbangun (sadar).
Sedangkan keistimewaan menuntut ilmu, ditegaskan oleh sabdanya: ”Sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayapnya (merendahkan sayapnya untuk memberi perlindungan) bagi penuntut ilmu karena ridho dengan apa yang dilakukannya”.
Dalam hadis lainnya:”Kamu mempelajari satu bab ilmu itu lebih baik dari pada sholat seratus rakaat”.
Abu Darda berkata:”Barangsiapa berpandangan bahwa menuntut ilmu bukalah jihad, maka sungguh akal dan pikirannya telah mengalami kelemahan”.
Adapun keistimewaan mengajar telah ditegaskan dalam firman Allah SWT
(Qs. Ali Imron:187)
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ
“ Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,"
Ketika Rasulullah membaca ayat ini beliau bersabda:”Allah SWT tidak pernah memberi ilmu kepada orang alimkecuali sebelumnya didahului dengan suatu perjanjian , sebagaimana yang telah diberlakukan kepada para nabi, agar ia menjelaskan dan tidak menyembunyikannya”.
Ketika Rasulullah SAW mengutus Mu’adz ke negeri Yaman, beliau berkata:”Petunjuk yang diberikan Allah SWT. Kepada seseorang melalui dirimu adalah lebih baik bagimu dari pada dunia dan isinya”.
Umar bin Khattab berkata:” Barang siapa yang menceritakan suatu hadis lalu hadis itu diamalkan, maka baginya pahala sebesar pahala amal itu”. Mengenai keistimewaan belajar dan mengajar Mu’adz bin Jabbal berkata:” Pelajarilah ilmu, sesungguhnya mempelajari ilmu karena Allah SWT. adalah suatu kebaikan, mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menelitinya adalah jihad, mengajarkannya kepada yang tidak tahu adalah sadaqoh dan mencurahkannya kepada ahlinya dinilai sebagai pendekatan diri kepada AllahSWT.
Ilmu menjadi penghibur di kala sepi, teman di kala sendiri, petunjuk dalam masalah agama, menjadi penyabar di kala senang dan susah. Ilmu bagaikan teman dan pembantu dalam segala situasi dan obor penerang menuju syurga. Dengan ilmu Allah SWT mengangkat derajat suatu kaum dan menempatkan mereka di tempat terhormat. Ilmu adalah petunjuk jalan bagi mereka menuju kebaikan sehingga jejak mereka diikuti dan perilaku mereka diteladani. Para malaikat melindungi mereka dengan sayap-sayapnya yang membentang. Setiap benda baik kering maupun basah sehingga ikan-ikan di laut hewa-hewan buas dan binatang ternak di darat serta burung-burung di langit memohonkan ampunan bagi mereka.
Ilmu dapat menghidupkan hati yang buta, menjadi penerang jiwa dari kegelapan, penguat jasmani dari kelemahan sehingga dapat mengangkat derajat hamba ke tingkat derajat orang-orang sholeh. Berpikir dengan ilmu sama nilainya dengan pahala puasa dan mengkajinya sebanding dengan sholat malam. Dengan ilmu manusia taat kepada Allah SWT, menyembah-Nya, mengesakan-Nya, bersikap rendah hati menyambung dan mempererat tali silaturrahmi. Ilmu ibarat seorang pemimpin dan mengamalkannya ibarat pengikutnya. Dengan ilmu manusia meraih kebahagiaan, sebaliknya yang tidak berilmu hanya akan mendapat kesengsaraan.
Dari sudut akal tidak dapat didangkal bahwa diantar keistimewaan ilmu adalah dapat mengantarkan manusia kepada Allah SWT dan mendekatkan diri kepada-Nya. Ilmu adalah pangkal kebahagiaan abadi dan kenikmatan kekal yang tiada berujung. Dengan ilmu manusia memperoleh kemuliaan di dunia dan kebahagiaan di akherat.
Dunia adalah lahan amal untuk bekal di akherat. Seseorang yang mengamalkan ilmunya akan menuai hasil buat dirinya berupa kebahagiaan abadi, yaitu dengan mendidik dirinya dengan akhlak dan etika yang sesuai dengan tuntunan ilmu. Demikinan pula dengan orang lain ia dapat meraih kebahagiaan abadi dengan mengambil faedah dari orang yang berilmu lewat proses belajar-mengajar. Dengan ilmunya seseorang pengajar memberikan bimbingan akhlak kepada manusia dan mengajak mereka mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana yang tersirat dalam firman-Nya (Qs. An Nahl: 125)
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
Orang berilmu menyeru orang-orang khawas (memiliki tingkatan ilmu khusus) dengan hikmah., mengajar orang-orang awam dengan nasehat dan menghadapi para pembangkang dengan jidal (berdebat). Dengan itu ia menyelamatkan dirinya dan orang lain.gambaran seperti inilah yang dipandang sebagai sosok hamba yang sempurna.
(ringkasan kitab Ihya ‘Ulumuddin- Karya Imam Ghazali, halaman:33-38)
Selengkapnya...
Kamis, 30 April 2009
Ilmu adalah sesuatu yang amat penting bagi siapa pun, tanpa ilmu dunia seakan gulita, hidup tak terarah, pikiran tak terpokus hidup menjadi tak ada tujuan. maka dari itulah dalam Islam menuntut ilmu hukumnya adalah wajib, tanpa membedakan gender tanpa ada batasan waktu dan tempat, artinya tak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu, dan tak ada batasan usia. Bahkan suatu amal ibadah yang dikerjakan tanpa tahu ilmunya maka ibadahnya itu akan tertolak dan tidak bernilai suatu ibadah. Selengkapnya...